Kamis, 13 September 2012

MENGUBAH DUNIA

Nats: Matius 2:13-16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Salah satu tokoh negarawan yang saya kagumi adalah Mahatma Gandhi. Ketika India masih dijajah Inggris, Gandhi menjadi seorang pemimpin yang berhasil membawa India keluar menjadi bangsa yang merdeka. Gandhi percaya bahwa setiap orang harus dapat menjadi pembawa perubahan untuk melihat apa yang mereka inginkan dapat terjadi di dunia ini.

Gandhi merupakan seorang pemimpin yang revolusioner, namun ia membawa India menjadi bangsa yang merdeka tanpa memulai sebuah revolusi. Bahkan ia melakukannya tanpa kekerasan sama sekali. Gerakan Satyagraha yang dipimpinnya berhasil membawa perubahan bagi sebuah bangsa yang dahulu terpuruk hingga saat ini menjadi bangsa yang diperhitungkan dalam peta perdagangan dunia.

Gandhi mengatakan, "In a gentle way you can shake the world" (dengan sebuah cara yang lemah lembut Anda dapat menggoncangkan dunia). Sungguh sebuah pemikiran yang berbeda untuk memperjuangkan sebuah keerdekaan. Ada begitu banyak orang yang berjuang dengan demostrasi dan kekerasan untuk dapat mengubah sesuatu, namun pada akhirnya hal tersebut berakhir dengan sia-sia.

Untuk menjadi agen perubahan, Anda tidak harus berteriak. Anda juga tidak harus pandai berbicara. Anda tidak harus menjadi terpilih. Anda juga tidak harus menjadi sangat pandai atau berpendidikan. Yang Anda butuhkan adalah memiliki sebuah komitmen.

Yesus adalah salah satu Pribadi yang mengubahkan dunia dengan kasih. Ia menaklukkan dunia dengan kelembutan, bahkan Ia tidak bersuara sedikitpun ketika hendak diadili. Yesus tidak takut menghadapi apapun untuk melihat orang-orang yang dikasihiNya kembali dalam pelukanNya.

Perubahan selalu dimulai dari diri Anda terlebih dahulu.

Rabu, 12 September 2012

Pengampunan


Mengampuni adalah langkah terpuji dan menuju keselamatan kekal

Mengampuni adalah salah satu perintah yang mungkin gampang diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Namun, kita melihat banyak tokoh-tokoh dalam Alkitab yang memberikan contoh tentang pengampunan :
  • Yusuf yang telah dicelakai dan dijual oleh saudaranya, akhirnya mau memaafkan saudara-saudaranya (lih. Kejadian 45:5-15; Kejadian 50:10-21).
  • Musa mengampuni Harun dan Miryam yang memberontak. (lih. Bilangan 12:1-13).
  • Daud juga mengampuni Saul, walaupun Saul berusaha berkali-kali membunuhnya (lih. 1 Samuel 24:10-12; 1Samuel 26:9; 1Samuel 26:23; 2Samuel 1:14-17 )
  • dan Daud juga memaafkan Simei yang sebelumnya telah menghina Daud (lih. 2Samuel 16:9-13; 2Samuel 19:23; 1Raja 2:8-9).
Dan akhirnya, contoh paling sempurna dari tindakan mengampuni adalah seperti yang dilakukan oleh Yesus, ketika di kayu salib Dia mengatakan “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34)

Pandanglah Kristus yang telah meninggalkan teladan bagi kita dengan tidak mendendam terhadap orang-orang yang menyakitiNya bahkan menyalibkanNya.

Komitmen


Seringkali tanpa disadari kita selalu menuntut supaya Tuhan memiliki komitmen atas hidup kita, memberkati usaha, pekerjaan, pernikahan, keluarga, sekolah, bahkan pelayanan kita. Tetapi ironisnya, justru kita sendiri seringkali tidak memiliki komitmen terhadap Allah.

Komitmen apa saja dalam kehidupan ini yang harus kita miliki?

1.   Komitmen dalam kehidupan. doa.
Lukas 18:1, "Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu."

2.   Komitmen untuk bertekun membaca firman Tuhan.
Mazmur 1:2, "Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam."

3.   Komitmen dalam pertemuan ibadah.
Ibrani 10:25,  "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

Jika kita mau Allah berkomitmen atas setiap aspek kehidupan kita, mari kita memperbaharui komitmen kita terhadap Allah dengan mendahulukan DIA terlebih dahulu.

Matius 6:33, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

Minggu, 09 September 2012

Hidup dalam Perbedaan

Pengkotbah 4:12
Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.

Ada kuasa dalam persatuan, iblis mengetahuinya. Itulah sebabnya dia terus-menerus menentangnya. Iblis mengambil perbedaan-perbedaan di antara kita, untuk memecah belah kita. Ambillah pria dan wanita, sebagai contoh. Iblis telah menipu kita untuk berselisih tentang keunggulan yang satu terhadap yang lain. Tetapi saya dapat menyelesaikan perselisihan itu sekarang juga. Wanita lebih unggul daripada pria. Jika Anda tidak mempercayainya, Anda yang pria cobalah untuk mengandung bayi. Tetapi juga, pria lebih unggul daripada wanita. Jika Anda tidak mempercayainya, Anda yang wanita cobalah mengandung bayi tanpa pria. Perbedaan-perbedaan yang digabungkan itulah yang membuat kita kuat!

Manusia bahkan telah memperdebatkan apakah Allah itu pria atau wanita. Tetapi Alkitab sendiri memberitahukan hal itu, Dia adalah kedua-duanya! Dalam bahasa Ibrani, kata "Yehova" (Tuhan) itu maskulin dan feminin.

Semula, umat manusia juga demikian. Ketika Tuhan mula-mula menjadikan "manusia", dia itu walau wanita tetapi dia juga pria. Kemudian Tuhan memisahkan bagian feminin lalu menjadikan "wanita". Sesudah itu, pria dan wanita harus dipersatukan agar menjadi utuh. Hal itu masih berlaku hari ini. Contohnya, bila Dia mempersatukan suami dan istri, Dia sering mempersatukan 2 orang yang mempunyai perbedaan kepribadian. Dimana yang seorang lemah, yang lainnya kuat, dan begitulah sebaliknya. Jadi, bila mereka menjadi satu, mereka lebih perkasa daripada mereka masing-masing dalam keadaan terpisah.

Dahulu saya tidak memahami hal itu. Saya merasa kesal terhadap Tuhan karena Dia memberikan saya seorang istri yang tidak mempedulikan banyak hal yang saya sukai. Tetapi akhirnya saya menyadari bahwa Tuhan tahu akan hal yang diperbuatNya. Seandainya Dia telah memberikan saya seorang wanita yang keranjingan terbang kesana kemari seperti saya, maka kami akan menghabiskan sisa hidup kami di angkasa. Kami takkan memberitakan Firman.

Apakah ada orang-orang dalam hidup Anda yang berbeda dengan Anda? Jangan biarkan iblis memanfaatkan perbedaan itu untuk saling menjauhkan Anda. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk perbedaan itu! Biarkan Dia mengajar Anda cara menghargai perbedaan itu. Biarkan Dia memperlihatkan betapa perkasanya Anda jadinya bila bersama-sama dipersatukan.

Jangan biarkan iblis memanfaatkan perbedaan untuk saling menjauhkan Anda.

Sabtu, 08 September 2012

Bukan Kekuatanku


Maka berbicaralah ia, katanya: "Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam. (Zak. 4:6)

Secara umum kehidupan Musa bisa dibagi menjadi tiga tahap:

40 Tahun Pertama,
ia memiliki segala-galanya. Sebagai pangeran Mesir ia dididik dalam segala kecakapan: pengetahuan, ketatanegaraan, kemiliteran dan sebagainya. Sebab itu ia punya kepercayaan diri tinggi. Ia merasa terpilih sebagai penyelamat bangsanya dan berusaha melakukan itu dengan kekuatannya sendiri. Namun ia gagal. Ia ditolak umat Israel dan dikejar-kejar Firaun untuk dibunuh. Musa terpaksa melarikan diri ke Midian.

40 Tahun Kedua,
Musa merasa tidak memiliki apa-apa. Ketika Tuhan menyatakan diri kepadaNya di padang gurun dan bertanya, “Apa yang ada di tanganmu?” Musa menjawab, “Tongkat.” Ia tidak punya apa-apa, selain tongkat gembala yang tidak ada nilainya. Musa minder, kecil hati dan tak berdaya untuk melaksanakan tugas yang begitu besar. Sebab itu ia menolak panggilan Tuhan. Setelah dipaksa Tuhan, ia baru mau berangkat ke Mesir.

40 Tahun Ketiga,
Musa sampai pada kesadaran, “Bersama Tuhan, aku bisa.” Ia tidak lagi mengandalkan kemampuannya, tapi bersandar penuh pada kuasa Tuhan. Tongkat Musa diubah menjadi ‘tongkat Allah’ dan menjadi alat untuk membuat tanda-tanda mujizat. Pada tahap itulah Musa mengalami pernyataan kuasa Allah yang luar biasa.

Kita sering kali mengandalkan kemampuan kita sendiri: kecerdasan, kecakapan, kekayaan atau kehebatan sendiri. Namun tanpa Tuhan, semua itu sia-sia. Sertakan Tuhan, maka kelemahan Anda akan diubah menjadi kekuatan dan potensi Anda akan berkembang maksimal.

Tanpa Tuhan, sehebat apapun potensi kita, kita bukan siapa-siapa.
Bersama Tuhan, tak ada sesuatu pun yang terlalu sulit bagi kita.

Berjalan ke Sion

Nats : Mazmur 132: 13
“Sebab Tuhan telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya”

Sebelum Daud menjadi raja di Sion (Yerusalem), ia ada di tiga tempat berbeda:

Bethlehem.
Daud belajar tentang tanggung jawab, bekerja, membangun keluarganya, membangun hubungan dengan Tuhan, dan menyelesaikan semua permasalahan yang ada karena Tuhan selalu beserta dirinya. Di rumah, Anda mempersiapkan diri Anda untuk menghadapi perkara besar dengan setia pada perkara kecil. Dari rumah lah, karakter Anda dibentuk dan kejujuran dibuktikan

Gua Adulam.
Hidup dalam pelarian dan ditolak oleh orang-orang di sekitarnya mengajarkan Daud untuk memberi kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Mengasihi dan melayani walaupun ketika dirinya dalam tekanan. Adulam Anda adalah dimana Tuhan berhadapan dengan sikap egois Anda. Sayangnya banyak dari Anda yang tidak mampu keluar dari Adulam.

Benteng di Hebron.
Hebron berarti perjanjian atau janji. Hebron merupakan gunung tertinggi di Israel dan tidak mudah untuk mencapai benteng pertahanan disana karena harus melewati jalan yang sangat sulit dan berbatu. Tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Semua ada dalam rencana-Nya. Untuk meraih janji Tuhan, Anda harus terus maju dan berjuang mendapatkannya.

Saat ini, kemana Anda melangkah? Seberapa jauh Anda dari Sion?

Rabu, 05 September 2012

PANDANGLAH KE ATAS

Nats: Ibrani 12:3
Ingatlah selalu Dia yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Pandanglah ke atas... karena pada saat seperti ini, hidup Anda mungkin tergantung pada tindakan ini.

Beberapa waktu yang lalu, Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa sikap lemah berusaha menyusupi hidup kita pada masa kini melalui semua tekanan dan berita buruk yang mengepung kita. Sikap lemah ini mengalihkan pandangan kita dari Firman Tuhan dan menghujani kita dengan kekuatan-kekuatan negatif. Sikap ini mengajak kita untuk memandang ke bawah pada kekalahan, bukannya ke atas -kepada Yesus.

Jika Anda membiarkan hal itu terjadi maka manusia rohani Anda akan mulai kehilangan kuasanya. Dan Firman memberitahukan tentang akibatnya, disebutkan bahwa Anda akan menjadi lemah dan putus asa. Yesus mengungkapkannya demikian dalam Markus 4. Dia berkata, bila kekhawatiran dunia ini merasuki hati dan pikiran Anda, maka itu akan menghimpit Firman dan menyebabkannya tidak berbuah. Dan karena iman Anda adalah hasil dari Firman, maka itu berarti iman Anda akan layu. Begitu hal itu terjadi maka Anda akan menghadapi bencana. Apakah yang dapat Anda lakukan untuk menghentikan reaksi kelemahan ini?

Pandanglah ke atas! Arahkan kembali mata Anda kepada Yesus. Saya ingat di lapangan lomba atletik bahwa bila seorang lawan membiarkan kepalanya tertunduk, dia tidak lagi berbahaya. Dengan mudah dia dapat dikalahkan. Jadi, tegakkan kepala Anda, teruslah memandang kepada Yesus yang menyempurnakan iman Anda. Ingatlah akan Dia dan jangan ingat akan kekhawatiran dunia ini. Ingatlah akan hal-hal yang diucapkan Tuhan dalam firmanNya. Palingkan pandangan dari semua keadaan di sekitar Anda dan arahkan mata Anda pada sumber surgawi. Jangan takut Anda akan kehilangan segala-galanya. Tuhanlah Sumber Anda, bukan dunia ini.

Jika Anda menjadi lemah akhir-akhir ini, mulailah mengangkat mata Anda. Tegakkanlah kepala Anda dan jangan menunduk. Tuhan ada di atas, iblis ada di bawah. Jadi, pandanglah ke atas!

Karena Tuhan ada di atas dan iblis ada di bawah, tepat di bawah kaki Anda.