Jumat, 09 Desember 2011

TETAPLAH BERBUAT BAIK


Mazmur 37:1-4
Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

Hidup di dalam kelompok orang-orang yang tidak mengandalkan Tuhan namun hidupnya jauh lebih baik dari kehidupan kita, yang hidupnya jauh lebih berhasil, jauh lebih mapan dan memiliki kekayaan yang jauh lebih besar dari kita, akan membuat kita menjadi kecil hati. Kita merasa bahwa kehidupan mereka jauh lebih diberkati daripada kehidupan kita dan hal itu kadang kala akan membawa kita untuk bertindak dan berlaku seperti yang mereka lakukan.

Mungkin kita ingin berbuat seperti yang mereka perbuat untuk mendapatkan kekayaan dengan cara menipu, melakukan kecurangan, manipulasi dan melakukan kejahatan lainnya. Kita ingin mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan karena tergiur dan iri hati untuk mendapatkan kekayaan dan karir secara cepat dengan cara yang tidak benar.

Ketahuilah bahwa hal itu tidaklah baik dan kita diingatkan untuk tidak menjadi iri hati terhadap orang lain yang menjadi kaya dan berhasil dengan cara-cara yang tidak benar. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang-orang yang mendapatkan kekayaan dan keberhasilan secara demikian akan segera binasa.

Mereka sebenarnya sudah berada di tempat yang gampang jatuh dan akan hancur binasa (Mazmur 73:18-19). Tetapi orang-orang yang tetap setia dan tetap di jalan Tuhan akan mendapatkan kebenaran dan Tuhan akan memberikan segala apa yang menjadi kebutuhan kita. Orang-orang yang tetap mempertahankan hati yang bersih di hadapan Tuhan dan tidak melakukan kejahatan, kecurangan, dan lain sebagainya, akan mendapatkan upah yang layak bagi dirinya dari Tuhan.

Di tengah kehidupan yang menuntut suatu perbuatan jahat untuk mendapatkan sesuatu, tetaplah berbuat baik sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. Jangan mengikuti jalan orang fasik untuk mendapatkan kekayaan, keberhasilan, dan kemuliaan.
Terpujilah nama Tuhan.

Jumat, 02 Desember 2011

BIARLAH TUHAN MENILAI


Pembacaan Ayat : Efesus 2:10
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan itu.Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.
Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu. Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun. Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.
Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik. Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain.
Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.

Galatia 6:7-10
6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.
6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.
6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

 



Minggu, 27 November 2011

MENGAMPUNI ORANG YANG MENYAKITI KITA

MATIUS 6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
Topik yang akan kita bahas adalah berdamai dengan sesama yang telah menyakiti kita. Melupakan dan mengampuni kesalahan orang yang telah melukai hati kita membutuhkan proses dan waktu.

Meskipun tidak mudah, namun dalam Kristus kita dimampukan untuk melakukannya karena Kristus telah memberikan teladan mengenai pengampunan. Sebagai orang percaya kita akan terus-menerus diperbarui dalam hal kerelaan hati untuk mengampuni

Kasih Selalu Dimulai dengan Kerendahan Hati

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23)

Mari kita terapkan ayat ini kepada diri sendiri sebelum kita mulai menunjuk jari kepada orang lain. Jika kita kehilangan pandangan tentang bagaimana pada saat-saat tertentu kita bersikap buruk, kita akan menjadi sombong dan merasa benar sendiri. Jika kita sadar akan kegagalan sendiri, maka mengasihi orang-orang yang bersikap buruk menjadi semakin mudah.

Suatu hari, seorang kenalan saya sedang mengadakan perjalanan sambil mengeluh kepada Tuhan tentang masalah-masalah yang ia hadapi. Ia merasa bahwa banyak orang mengkritiknya dengan tidak adil, bahkan mengarang dusta untuk mendukung alasan mereka.
Ia menjerit kepada Tuhan untuk mendapatkan simpati dan pengertian, dan ia sangat terkejut ketika Tuhan berkata kepadanya, "Bergembiralah bahwa mereka tidak mengenal engkau yang sebenarnya!"

Sering kali, kita hanya melihat apa yang baik dalam diri sendiri dan mengingat keberhasilan kita lebih daripada kegagalan kita. Jadi marilah kita perlakukan orang lain dengan cara yang sama -- "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:39)


Ampunilah Mereka yang Menyakiti dan Menjengkelkan
Mengampuni bukan suatu perasaan. Bukan pula berusaha melupakan hal-hal buruk yang diperbuat orang terhadap kita. Mengampuni ialah suatu tindakan hati dan kemauan. Mengampuni berarti memberi seseorang sesuatu yang tidak mereka terima yaitu maaf atau pengampunan. Mengampuni juga berarti mengakui bahwa kita diperlakukan salah, tetapi menjangkau melampaui hal itu dan memberi kemurahan.

Kadang-kadang, mengampuni merupakan suatu proses. 
Jika kita disakiti dengan amat dalam, maka membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka. Di sini, mengampuni bertindak sebagai pembersihan luka terus-menerus sehingga luka itu dapat sembuh dengan baik. Ketika kita memikirkan seseorang yang pernah menyakiti atau telah berbuat dosa terhadap kita, timbul sakit hati dan rasa jengkel, maka kita perlu meneguhkan kembali komitmen untuk mengampuni. Itu tidak berarti bahwa tindakan pengampunan yang pertama tidak berlaku lagi, tetapi sebuah proses yang mungkin dibutuhkan agar Anda benar-benar sembuh.

Suatu ketika saya sangat terluka oleh seorang kawan. 
Saya tidak dapat mengatasi perasaan marah dan kecewa saya setiap kali teringat akan dia. Seorang kawan lainnya menasihati saya, supaya mengatakan kepada Tuhan bahwa saya mengampuni kawan itu setiap kali saya memikirkannya dan memilih untuk melakukan ini dengan kasih-Mu, dan saya tidak akan menyerah sampai Engkau menaruh kasih-Mu itu di dalam hati saya bagi dia. Saya menerima kasih-Mu itu dengan iman.

Saya berdoa seperti itu berulang kali setiap hari selama beberapa bulan, tetapi sepertinya tidak ada yang berubah. Suatu hari ketika sedang berdoa, saya melihat kawan saya dengan "mata yang baru". Saya melihat luka-luka dan sakit hatinya; saya melihat bagaimana ia telah dilukai oleh ayahnya, dan bagaimana ia meneruskan sakit hatinya itu kepada saya. Tuhan menaruh belas kasihan di dalam hati saya baginya, yang saya kira tidak akan pernah terjadi. Tuhan melakukan lebih banyak daripada yang dapat saya minta atau pikirkan!

Mendekati Orang, Bukan Menjauhi Mereka
Ketika seseorang menjengkelkan kita atau kepribadian mereka menimbulkan kekesalan, kita cenderung untuk menghindari mereka. Ketika mereka masuk ke dalam suatu ruangan, kita tidak mau melihat ke arah mereka dan dengan sendirinya kita akan bergeser ke seberang ruangan.
Beberapa di antara kita akan berusaha tidak hadir dalam pertemuan atau acara di mana orang-orang tertentu akan hadir.

Salah satu kunci yang terbesar dalam mengasihi musuh-musuh kita ialah bergerak mendekati mereka, bukan menjauhi. Memang ini berlawanan dengan sifat manusia yang alami, tetapi tindakan tersebut efektif. Mungkin kita membutuhkan waktu untuk membereskan suatu hubungan yang sulit, atau menjadi tenang kembali setelah suatu perbantahan. Tetapi kita yang harus membuat komitmen terhadap orang itu dan menyelesaikan keadaan tersebut.

Saya dan istri saya kadang-kadang merasa jengkel terhadap satu sama lain, atau bahkan memunyai perbedaan pendapat tentang suatu pokok yang cukup penting. Ketika kami baru menikah, kami rasakan hal itu sebagai suatu pengalaman yang menegangkan.
Sekarang kami sudah terbiasa karena kami merasa lebih aman dalam hubungan kami. Kami telah sepakat bahwa apabila hal itu timbul, kami akan mengambil beberapa jam atau jika perlu beberapa hari untuk menenangkan diri dan mendapatkan suatu pandangan yang lebih jelas. Hanya pada saat itulah kami akan membicarakan pokok masalah tersebut. Kami akan terus membicarakannya sampai kami memperoleh pengertian bersama. Komitmen bersama untuk saling mendekat inilah, dan bukan sebaliknya yang membantu kami melewati saat-saat yang sulit.

Bagaimana dengan orang yang tidak mengerti prinsip ini dan tidak mau terbuka dan membicarakan masalahnya? Kita harus tetap melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk menjangkau orang itu, dan berusaha menciptakan suasana di mana mereka merasa dapat berkomunikasi dengan kita. Kebanyakan orang ingin berbicara, tetapi tidak tahu bagaimana memulainya. 
Bertemulah dengannya di tempat umum, misalnya sambil makan atau minum kopi, atau apa saja yang ia suka lakukan. Tunjukkan kepadanya bahwa Saudara terbuka, Saudara ingin meluruskan keadaan, dan Saudara mau didekati. Ketika ketegangan menjadi berkurang, Saudara dapat mulai membicarakan bidang yang sensitif dalam hubungan Saudara, mungkin dengan menanyakan apakah Saudara telah berbuat sesuatu yang menyakitinya, atau apakah ia mau membicarakan tentang ketegangan yang ada dalam hubungan Saudara dengannya.

BERDAMAI DENGAN SESAMA


Saat ini, kita akan belajar mengasihi orang yang berbeda pendapat dengan kita. Setiap orang bebas berpendapat. Akan tetapi, kita tidak bisa memungkiri bahwa kebebasan tersebut bisa saja menimbulkan perselisihan antarsesama

BEDA PENDAPAT, TIDAK MASALAH
Orang-orang Kristen bisa saja tidak sependapat. Kadang-kadang kita mengalami perbedaan pendapat dan berusaha memberikan alasan-alasan untuk membenarkan pendapat kita.
Padahal, beda pendapat, hikmat, dan prinsip-prinsip alkitabiah dapat merangsang adanya diskusi yang sehat dan mengarahkan dalam mengambil keputusan-keputusan yang tepat.
Kesulitannya adalah membuat diskusi tetap bersemangat tanpa bersifat merusak, sebab apabila kita menjadi marah atau frustrasi, maka kita berdekatan dengan dosa.
Percakapan-percakapan yang merusak meninggalkan kepahitan dalam suatu hubungan. Tetapi, jika kita memutuskan untuk saling menghindari, maka kita melanggar perintah-perintah Alkitab.

Setiap kita perlu melatih diri dengan keterampilan ketidak sepakatan yang sehat.
Keterampilan dalam ketidak sepakatan akan membantu kita hidup dalam keselarasan. Alkitab memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk tidak sepakat dan setiap pihak benar. Allah lebih peduli pada sikap kita masing-masing terhadap satu sama lain dibandingkan pendapat kita tentang sebuah masalah.

Menjadi benar dengan cara yang salah bisa saja terjadi.
Oleh sebab itu, dalam jangkauan-jangkauan di mana Alkitab memberikan kebebasan untuk tidak sependapat, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak sependapat secara ikhlas.

Roma 15:1-13 memberikan dua cara untuk tidak sepakat dengan ikhlas.
  • Pertama, "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (ayat 2)
  • Kedua, "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah." (ayat 7)

SALING MENYENANGKAN :
Dalam Roma 15:1-6, perintah pertama meletakkan tanggung jawab pada orang yang kuat. Orang yang kuat harus menyenangkan yang lemah (Roma 15:2).  Menyenangkan seseorang berarti berperilaku dalam cara-cara yang membangun pihak yang lemah secara rohani. 

Coba pikirkan suatu perilaku yang diperdebatkan tetapi Anda kuat dalam perilaku itu. Lalu tanyakan pada diri Anda, "Apakah aku mau melepaskan?"
Misalnya, ibu mertua Anda berpikir semua tarian adalah salah, sementara Anda ingin anak perempuan Anda ikut dalam kursus tari. Siapa yang menyerah? Jika ibu mertua Anda memiliki suatu sikap farisi, legalistik tentang semua jenis tarian, Anda boleh memilih untuk mengabaikan pendapatnya.

Yesus pun terkadang mengabaikan orang-orang Farisi. Salah satu contohnya ketika murid-murid Yesus memungut bulir-bulir gandum untuk dimakan ketika mereka melewati ladang-ladang gandum pada hari Sabat (Markus 2:23-28). Yesus mengetahui ajaran tradisional yang dianut oleh orang-orang Farisi, namun Ia tidak mengatakan sesuatu kepada para murid-Nya guna memperingatkan atau menghentikan mereka, sehingga tidak lagi menyinggung perasaan orang Farisi. Kadang, Yesus tetap melanjutkan tugasnya, meskipun bertentangan dengan tradisi dan pendapat legalistik orang Farisi.

Contoh lain bisa ditemukan di Markus 3:1-6, di mana Yesus memilih perselisihan-perselisihannya dengan hati-hati. Yesus memerintahkan agar kita "mencari kesenangan sesama kita" (Roma 15:2).  Sesama di sini berarti orang-orang Kristen di dekat Anda.
Dalam kasus perbedaan pendapat antara Anda dan ibu mertua Anda, semua bisa diselesaikan dengan damai. Jika ibu mertua Anda tinggal di kota lain, Anda bisa membiarkan anak-anak Anda mengikuti kursus menari, tetapi jika Anda sering menjalin kontak dengan ibu mertua Anda, jalan terbaik adalah tunduk kepada ibu mertua Anda. Dari hal ini kita melihat sering kali keputusan-keputusan kita tergantung pada situasi. Keputusan yang kita ambil dipengaruhi oleh orang yang ada di dekat kita.

Contoh lain, seorang suami mengizinkan dan menganggap wajar jika seorang wanita/istri menggunakan celana panjang ketika mengikuti kebaktian di gereja. Tetapi sang istri tidak sependapat. Siapa yang harus tunduk? Suami ataukah istri? Alkitab menyerahkan tanggung jawab pada suami untuk tunduk pada istrinya supaya dapat menyenangkan istrinya.  Sebaliknya, sang istri dibiarkan untuk tidak sepakat dengan suaminya, dan sang suami tidak kecewa jika istrinya memakai rok ke gereja.
Bagaimana jika situasinya berbeda? Bagaimana jika sang istri berpikir tidak ada salahnya memakai celana panjang ke gereja dan sang suami berpikir sebaiknya tidak demikian? Jika demikian sang istri perlu tunduk pada suaminya. Sang istri seharusnya memakai rok guna menyenangkan suaminya.

Seberapa jauh kita bertindak dalam hal ini? Seberapa banyak kebebasan yang sebaiknya kita tinggalkan demi seseorang yang lain dalam tubuh Kristus? Alkitab memusatkan perhatian pada Yesus Kristus, teladan kita, yang meninggalkan kebebasan-Nya demi kita (Roma 15:3a). Jika Kristus tidak menyenangkan diri-Nya sendiri, maka kita hendaknya mengikuti perintah-Nya. Teladan Kristus dinubuatkan oleh Alkitab dan Alkitab memberikan apa yang kita perlukan (Roma 15:4).


SALING MENERIMA :
Saling menerima merupakan kunci kedua yang Alkitab berikan agar kita mampu untuk tidak bersepakat secara ikhlas (Roma 15:7-13).
Penerimaan menuntut kasih. Saling menerima berarti kita memberikan kasih kita yang tulus dan murni. Ketidaksepakatan terkadang melukai perasaan orang lain. Apabila hal ini terjadi, meskipun kita terluka, kita harus menunjukkan kasih melalui tindakan-tindakan kita dan berani mengampuni orang yang berbeda pendapat dengan kita. Dalam kasus ini, Tuhan Yesus memberikan teladan kepada kita -- Ia menerima orang Yahudi (Roma 15:8) dan Kafir (Roma 15:9-12).

Saat ini banyak orang Kristen bersikap seperti orang kafir. Mereka merasa bebas untuk merokok, minum anggur, berdansa, atau memiliki sebuah gambar Yesus di dinding rumah mereka. Apakah Yesus akan menerima orang seperti ini? Ya, Allah menerima orang kafir ini (Roma 14:3b).
Orang "Yahudi" Kristen yang sangat hati-hati harus belajar menerima orang "kafir", begitu pula sebaliknya. Mengapa? Sebab "Kristus juga telah menerima kita" (Roma 15:7).

Alkitab tidak menginginkan hal-hal yang meragukan menjadi penghalang untuk kita mengampuni. Orang Kristen harus sepakat bahwa sesuatu diperbolehkan atau benar, tetapi ia diperintahkan supaya mempertahankan sikap bersatu dan menerima orang Kristen lain yang berbeda pendapat dengan dirinya.
Orang-orang Kristen bebas untuk bekerja pada hari Minggu dan harus mengasihi orang-orang percaya lain di sekitarnya. Tidak sepakat dengan ikhlas berarti meninggalkan kebebasan-kebebasan demi orang lain di antara jemaat. Mengapa? Yesus Kristus menerima mereka apa adanya. Ia tidak menyuruh mereka mengubah pendapat-pendapat mereka. Beban tanggung jawab ada pada yang kuat supaya berhenti melakukan hal-hal tersebut yang dirasa salah oleh orang Kristen yang lain.

Kadang, kita merasa sulit mendengar Alkitab berkata kepada kita supaya meninggalkan hal-hal yang kita nikmati demi orang lain.
Kita bertanya-tanya sampai berapa lama kita harus membatasi kebebasan-kebebasan kita dalam hubungan-hubungan tertentu. Akankah teman-teman yang lebih lemah menjadi kuat? Apakah kita mampu menikmati kebebasan-kebebasan kita? Kita memerlukan doa. Kita perlu tahu bahwa kita berbuat hal yang benar, dan Allah yang akan memberi kita sukacita dan damai sejahtera pada saat kita meninggalkan kebebasan-kebebasan kita. Kita akan berlimpah dalam pengharapan hanya oleh kuasa Roh di dalam diri kita, karena kita berkorban demi orang-orang yang Allah kasihi.
Orang-orang Kristen yang tidak sepakat sering bertengkar akibat masalah-masalah kecil. Perselisihan mereka mungkin menyebabkan mereka memaksakan ketegangan-ketegangan dalam hubungan mereka, sehingga akhirnya mereka merasa tidak nyaman bila saling bertemu.

Bagaimana mereka mengakhiri perselisihan?
Cara yang paling lazim adalah berpisah. Orang-orang Kristen yang merasa tidak puas kadang membentuk gereja sendiri di tempat lain. Tindakan menghindar menjadi suatu cara hidup lebih dari sekadar suatu gaya manajemen konflik berkala. Pada dasarnya, kecenderungan manusia adalah menghindar; sementara cara Tuhan adalah menerima. 

Apabila kita mengatasi ketidaksepakatan terhadap masalah-masalah dengan cara kita sendiri lebih daripada cara Allah, kita sesungguhnya gagal bersepakat secara ikhlas.


Selasa, 15 November 2011

10 Pribadi Yang Disukai :

Ketulusan 
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati 
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kesetiaan 
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking 
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

Keceriaan 
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Bertanggung jawab 
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri 
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa 
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Easy Going 
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

Empati 
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

PENGGUNAAN TEKNOLOGI DI GEREJA

EMPAT MITOS PENGGUNAAN TEKNOLOGI DI GEREJA

Gereja telah menggunakan teknologi di sepanjang sejarah: papirus, mesin cetak, piano, organ, pencahayaan, mikrofon, gitar, drum, dan proyektor video. Lalu, dengan kehadiran internet, kita memunyai teknologi-teknologi yang lebih baru seperti situs-situs, jejaring sosial melalui Facebook, dan pesan singkat (SMS) lewat ponsel atau telepon genggam.

Bagaimana kita menggunakan teknologi dengan baik? 
Kita akan mengawali dengan melenyapkan empat mitos umum tentang penggunaan teknologi di gereja.

1. "Jika Anda membuatnya, mereka akan datang."

Tidak seperti itu. Yang dimaksudkan di sini adalah membuat situs, blog, forum diskusi, siaran iPod, akun Twitter, atau halaman penggemar Facebook. Kehadiran Anda secara digital tidak akan secara otomatis dilihat oleh banyak orang hanya dengan eksistensi tersebut. Orang-orang memilih apa yang akan mereka perhatikan berdasarkan relevansi (terhadap situasi mereka), nilai (yang meningkatkan kehidupan mereka), dan kepercayaan (yang berasal dari reputasi atau nama baik penyedia konten atau teman-teman yang mengarahkan mereka kepada hal itu). Kehadiran Anda secara "daring" [dalam jaringan/online, Red.] akan membutuhkan promosi yang lebih sering menggunakan media tradisional sebagaimana juga metode "getok tular" (dari mulut ke mulut).

2. "Cara ini tidak membutuhkan biaya apa pun."

Memang benar, beberapa perangkat "daring" tidak membutuhkan biaya apa pun dalam penggunaannya, namun menggunakan teknologi dapat menghabiskan biaya yang lebih besar daripada uang. Ada biaya terus-menerus berupa tenaga untuk menghasilkan isi yang segar dan relevan. Ada juga waktu yang diperlukan dalam menjalin hubungan dengan komunitas "daring" Anda, melibatkan diri dalam percakapan-percakapan, dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan. Bahkan melalui perangkat "daring" dan aplikasi internet gratis ada biaya tersembunyi yang tidak sesuai dengan sasaran gereja Anda dan dapat membingungkan audiensi Anda.

3. "Hanya generasi yang lebih muda yang menggunakan jejaring sosial."

Sebuah penelitian memberitahukan bahwa 64 persen pengguna Twitter dan 61 persen pengguna Facebook berusia 35 tahun ke atas. "Pew Research Center" dari Internet & American Life Project menemukan bahwa 38 persen orang dewasa berusia 65 tahun ke atas melakukan aktivitas "daring". Untuk mempergunakan teknologi dengan lebih baik, Anda harus mau bertemu orang-orang yang telah terhubung secara "daring", dan Anda harus mau memberi pelatihan menggunakan perangkat "daring" yang tepat untuk melayani komunitas yang sudah ada.

4. "Teknologi dapat menggantikan hubungan dalam kehidupan nyata."

Teknologi tidak boleh menggantikan hubungan dalam kehidupan nyata. Anda dapat menggunakan teknologi dalam cara yang memperkaya hubungan dalam kehidupan nyata untuk tetap terhubung dalam pertemuan-pertemuan tatap muka di gereja. Perangkat "daring" melakukan dua hal: memperlihatkan dan memampukan. Teknologi dapat memperlihatkan kecenderungan seseorang, entah itu sebuah sikap pengasingan diri ataupun kecanduan. Teknologi juga dapat memampukan seseorang untuk berkomunikasi dengan lebih banyak orang melalui lebih banyak cara tanpa terkekang oleh ruang dan waktu.

Dengan melenyapkan mitos-mitos tersebut, kita dapat belajar untuk mempergunakan teknologi bersama-sama secara lebih baik, untuk berbagi cerita tentang apa yang sedang terjadi, apa yang belum terjadi, dan membicarakan apa yang sedang kita pikirkan, sehingga kita dapat membuat keputusan-keputusan di masa depan dengan pengetahuan tentang teknologi.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengawali mengintegrasikan teknologi sebagai bagian pelayanan gereja Anda. Akan tetapi, semakin lama Anda menunggu, semakin banyak kesempatan yang hilang dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang hidupnya tergantung akan teknologi

Minggu, 13 November 2011

Teguran dan Nasihat

Teguran dan nasihat itu sangat penting buat hidup kita bahkan Firman Tuhan juga mengatakan kita harus memperhatikan teguran dan nasihat. Teguran biasanya awalnya tidak enak didengar oleh telinga kita, tetapi jika memiliki kerendahan hati untuk menerimanya, maka kita akan menjadi lebih bijak di masa depan, bahkan justru nasihat dan teguran akan menyelamatkan hidup kita dari bahaya yang akan terjadi di masa depan.

Orang semakin bertambah umur cenderung akan semakin sulit untuk menerima nasihat/teguran lagi. Oleh karena itu, semenjak masih muda jangan sampai kita terbiasa mengesampingkan atau sulit menerima nasihat/teguran. Teguran dan nasihat bisa datang dari Firman Tuhan yang kita baca setiap hari, kejadian yang kita alami, sesama (orang tua, otoritas, teman), dan hati nurani kita.

Apa kata Firman Tuhan tentang teguran dan nasihat?

Amsal 10:17 Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat.

Amsal 12:1 Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.

Amsal 15:10 Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati.

Amsal 19:20 Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.

Amsal 29:1 Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.

Teguran dan nasihat adalah salah satu tindakan kasih. Jika orang lain menegur atau menasihati kita, itu tandanya orang itu mengasihi kita, karena orang itu ingin kita lebih baik dan tidak salah bertindak. Terimalah teguran dan nasihat yang sesuai dengan Firman Tuhan, terimalah dengan kerendahan hati. Setiap teguran dan nasihat yang diberikan kepada kita adalah juga untuk kebaikan kita dan juga untuk menjaga hidup kita.