Rabu, 04 Februari 2015

Nyanyian, Suatu Doa

Mazmur 42:9
TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.

Dalam kegelapan malam yang pekat, gunung yang menjulang tinggi sekalipun tidak dapat terlihat, walau sebenarnya ia ada.
Demikianlah kasih setia Tuhan….Dalam masa-masa gelap, sulit bagi kita untuk bisa melihat / merasakan kehadiran Tuhan.

Tapi sesungguhnya, IA tidak pernah beranjak, tidak pernah bergeser.
Tuhan itu setia, IA gunung batu perlindungan yang teguh yang tak pernahmeninggalkan orang yang di kasihNya. Di pagi yang cerah maupun di malam yang gelap, IA TETAP ADA dan Selalu Ada.

Angin Ribut ke Laut

Yunus 1:4, 12.
Tetapi Tuhan menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar.
Yunus : “Angkatlah aku, campakanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda…, bahwa aku tau, bahwa karna akulah badai besar yang menyerang kamu.”

Kisah 27: 14, 15, 24.
Tetapi kemudian turunlah agin badai, kapal itu dilanda dan tidak tahan menghadapi angin.
Malaikat : Jangan takut Paulus, sesungguhnya oleh karunia ALLAH, maka semua orang bersama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.
Orang Benar yang bersih kelakuan seperti Paulus keberadaannya menyelamatkan orang-orang yang ada bersama-bersama dengannya.
 
Tetapi orang yang takut Tuhan (Yunus 1:9) tetapi hidupnya tidak takut Tuhan, keberadaannya justru mencelakan orang-orang bersama-sama dengannya.

Sabtu, 16 November 2013

Berbahasa dan Cara Berpikir.



Pernahkah kita menyadari, bahwa dalam berpikir kita mempergunakan bahasa sehari-hari? Bahwa bahasa bukan saja dipergunakan untuk berkomunikasi, melainkan juga menjadi kebiasaan cara ber pikir menurut bagaimana kita bercakap-cakap, bertutur-kata, menggunakan suatu bahasa.
Hal ini dapat terlihat; seorang berbahasa Indonesia sehari-harinya, bepergian ke tempat dimana di- gunakan bahasa Mandarin. Walau ia menguasai bahasa Mandarin dengan baik, ia memerlukan be- berapa waktu sebelum kembali fasih berbahasa Mandarin, beberapa waktu untuk beralih kebiasaan dan cara berpikir menurut bahasa Mandarin, setidaknya pertama untuk mulai berkomunikasi.
Sesudah cukup lama berada disana, ketika kembali ke Indonesia, terulang lagi diperlukan waktu menga- lihkan cara berpikir dimaksud tadi. Makin sering per- pindahan antara kedua tempat, makin singkat waktu peralihan kebiasaan berpikir yang diperlukan.

Pemahaman dan pembentukan cara berpikir.
Peralihan cara berpikir ini terjadi atas berbagai peng gunaan bahasa. Manakala berbahasa daerah Jawa, Sunda atau Bali dengan budaya tingkatan kastanya; pikiran kita bekerja untuk pemilihan kata yang tepat, agar mendapat persesuaian pembanding status an- tara yang berbicara dengan pihak yang diajak berbicara.
Apabila bahasa Inggris yang digunakan, pikiran bekerja atas penyusunan tata bahasanya, sebagai- mana bahasa itu mementingkan grammar sebagai pernyataan sikap sopan dan penekanan lainnya disamping menerangkan mengenai waktu. Dan terjadi seterusnya pada bahasa lain dengan kekhu- susannya, seperti penggolongan gender setiap benda dan sebagainya.
Begitulah bahasa membentuk cara berpikir. Mempelajari suatu bahasa tertentu lain, membawa kita kepada pemahaman akan cara berpikir bangsa atau suku berbahasa itu, karena tanpa disadari, se- telah fasih berbahasa tersebut, kita sendiri berpikir menurut cara bangsa atau suku itu. Pada tahap itulah kita baru dapat merasakan lucunya kelakar mereka, atau kerasnya sindiran dalam bahasa itu, dan pesan lain terkandung, meski diungkap dalam kata-kata yang baik dalam satu kalimat saja.

Mulai dengan bahasa ibu, yang baik.
Sebelum membicarakan bahasa asing, yang mungkin lebih rumit tata bahasanya ditambah dengan keunikan lain, adalah baik melihat terlebih dulu bagaimana kita berbicara dalam bahasa ibu. Secara sederhana disimpulkan bahwa siapapun yang tidak menguasai bahasa ibu dengan baik, menunjuk- kan perlunya ia memperbaiki cara berpikir. Tentulah ia juga akan menghadapi kesulitan besar untuk mempelajari bahasa lain.
Untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa verbal apapun, selalu diawali dengan pengetahuan akan perbendaharaan kata dan pelafalannya, dan ini belum mencukupi. Untuk merangkum kata menjadi- kannya sebuah informasi, masih lagi diperlukan pengetahuan tata bahasa.
Adalah memprihatinkan melihat bagaimana orang yang belum menguasai bahasa ibu dengan baik, namun memaksakan diri menggunakan kata-kata asing tanpa memahami akan artinya, seperti ter- lihat pada kata “mobil second”. Mungkin yang dimaksudkannya adalah “mobil bekas pakai”, namun kata asing yang digunakan itu sama sekali tidak memberi arti seperti yang dimaksudkan.
Tentu banyak pembaca mengetahui, bahwa “second” dalam bahasa Inggris, untuk konteks diatas, berarti “kedua”, sedangkan untuk menyatakan “bekas pakai”, adalah “second hand”. Begitulah ada- nya bilamana kita menggunakan bahasa Inggris.
Semoga saja ini tidak berarti bahwa kita malu menggunakan bahasa ibu, yang sebenarnya memiliki keindahan bahasa juga. Kita tidak harus menggunakan kata-kata asing yang tidak kita pahami akan artinya, dengan demikian tidak menurunkan martabat sebagai manusia, sebagai halnya dengan be- berapa jenis burung yang dapat berbicara tanpa mengetahui artinya.

Bahasa, pencerminan cara berpikir.
Setelah memahami betapa bahasa membentuk cara berpikir, kita juga dapat memahami bagaima- na cara berpikir seorang melalui caranya berkomunikasi. Efektifitas dan Sistimatis nya berpikir, ter- lihat dalam rangkuman kata, menjadikan kalimat relatif singkat menyampaikan informasi, begitupun kecepatan menangkap pesan yang disampaikan kepadanya.
Ada juga yang terbiasa berkalimat panjang lebar menyampaikan informasi yang sebenarnya hanya sederhana. Kepadanya perlu penyampaian panjang lebar juga sebelum dapat ia menangkap pesan yang terkandung. Kalimat singkat, seperti tertulis pada rambu lalu lintas, belum cukup membuatnya mengerti akan pesan peraturan lalu lintas itu. Mengapa demikian?
Kiranya cara berkomunikasi dan cara berpikir mempunyai korelasi satu sama lain. Kebiasaan cara berkomunikasi membentuk cara berpikir dan cara berpikir tercermin dalam berkomunikasi. Sebagai mana kita ketahui bahwa kebiasaan bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah, begitu pula dengan cara kita berpikir. Hanya saja diperlukan keinginan kuat untuk membuang jauh sikap bertahan untuk berubah.

Rabu, 23 Oktober 2013

FITNAH


Nats : Lukas 11:14-23

11:14 Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak.
11:15 Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan."
11:16 Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.
11:17 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.
11:18 Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.
11:19 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu.
11:20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.
11:21 Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya.
11:22 Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.
11:23 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."

Pendahuluan :
Difitnah merupakan hal yang sangat menyakitkan, tentu tidak seorangpun yang rela mengalaminya, bahkan orang dunia mengatakan, Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan. Jika orang percaya mengalami fitnahan itu bukanlah hal yang mengagetkan, karena Yesus sendiri mengalami hal yang sama. Bahkan Yesus difitnah bukan oleh orang dunia, tetapi oleh orang-orang yang melayani, atau yang berada disekitar diri-Nya yaitu para ahli Taurat dan tua-tua Yahudi.

Di dalam ayat pembacaan ini dikisahkan peristiwa Yesus mengusir setan dari seorang bisu, mujizatpun terjadi orang bisu tersebut mulai dapat berbicara. Dalam hal ini Yesus tidak melakukan hal yang jahat, Ia melayani dan menyatakan kasih-Nya dengan membebaskan orang yang terikat, dan Allah mengerjakan segala perkara yang dahsyat melalui pelayanan-Nya. Namun tidak semua orang yang menyaksikan mujizat itu takjub dan memuliakan Allah, ada diantaranya yang tidak suka dan berkata, Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan, mereka memfitnah-Nya, dan bahkan ada yang mencobai Yesus.

Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama, ketika kita berbuat baik, melayani dengan tulus hati, namun tiba-tiba ada orang yang memfitnah kita, bagaimanakah perasaan kita, apakah kita marah lalu membalas kejahatan mereka? Atau menjadi kecewa? Ingat ketika Yesus difitnah Ia menghadapinya dengan bijaksana, Ia tenang dan tidak menjadi marah. Jadi artinya, Fitnahan bukan untuk ditangisi tetapi untuk dihadapi, karena jika menyambut fitnahan dengan tangisan maka membuat kita tetap berada dalam kekecewaan yang mendalam bahkan bisa menyeret kita kepada kebencian. Oleh sebab itu setiap fitnahan harus dihadapi dan disikapi dengan tenang dan dengan benar, Tuhan pasti memberi kekuatan dan mengerjakan kemenangan bagi kita.

Pertanyaan yang sekaligus menjadi inti pembahasan saat ini adalah: Mengapa orang percaya difitnah? 
Untuk menemukan jawabannya kita lihat beberapa hal berikut ini:

1. Orang bisa difitnah karena memiliki sesuatu yang orang lain tidak miliki.

Dalam ayat pembacaan ini dikisahkan seorang bisu yang kerasukkan setan dan tidak seorangpun yang mampu membebaskannya, tetapi ketika Yesus menjumpainya Yesus membebaskannya dari ikatan setan dan sejak itu orang ini mulai bisa berbicara kembali. Yesus memiliki sesuatu yang dahsyat yang tidak dimiliki oleh para ahli Taurat, hal itu membuat mereka irihati dan membenci Yesus kemudia mulai memfitnah-Nya. Para ahli taurat hanya bisa mengajar dengan kata-kata yang indah tetapi Yesus mengajar dalam kuasa.

2. Karena dunia tidak senang melihat orang lain maju.

Dunia memakai fitnah sebagai senjata untuk menyerang kita, dunia ingin melihat kita gagal, melihat kita kecewa, stress, kemudian tinggalkan Tuhan. Karena itulah jika kita difitnah lalu menjadi stress, menjadi kecewa, dan tidak melakukan sesuatu sesungguhnya kita adalah orang yang bodoh. Waktu difitnah lakukan tindakkan dan tetap berjalan maju sebab Tuhan pasti memberikan kemenangan.

3. Karena fitnah adalah salah satu strategi iblis untuk memisahkan seseorang dari Tuhan.

Setan memakai para ahli Taurat untuk memfitnah Yesus selain dengan tujuan untuk mencelakakan Yesus, juga dengan maksud agar Yesus tidak mau lagi melakukan karya mujizat. Karena itu ketika kita difitnah, ingatlah setan sedang berusaha memisahkan kita dari Tuhan.

4. Karena memang anak-anak iblis menghalalkan segala cara.

Para ahli Taurat dan orang Farisi sadar betul jika mereka tetap membiarkan Yesus dan murid-murid-Nya terus melayani dan melayani dalam kuasa maka mereka akan kehilangan banyak pengikut. Karena itu mereka akan melakukan apa saja demi menghambat bahkan menghancurkan pelayanan Yesus.
Tidak jarang hari-hari ini kita jumpai gereja-gereja saling tuding dan saling menyalahkan. Ingat setan akan memanfaatkan ketidak harmonisan diantara gereja untuk saling menyalahkan sehingga memungkinkan terjadinya kehancuran, gereja harus menyadari tipu muslihat iblis ini.

Berikut ini akan kita lihat sikap Yesus di dalam menghadapi fitnahan, diantaranya sebagai berikut:

1. Ayat 17; Memiliki hubungan yang akrab dengan Bapa.

Yesus mengetahui pikiran mereka karena Dia memiliki hubungan yang akrab dengan Bapa, dan Bapalah yang memberitahukan kepada-Nya apa yang ada dipikiran mereka. Sebab bagi Allah tidak ada perkara yang tersembunyi.

2. Ayat 17-19; Tetap melayani dan mengajar.

Yesus tidak terpengaruh sama sekali oleh fitnahan itu, justrus serangan mereka tersebut dipakai Yesus untuk mengajarkan sebuah kebenaran, Ia berkata: Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, rumah tangga yang terpecah-pecah pasti akan runtuh,

3. Ayat 19-22; Berpikir secara sehat.

Ketika difitnah orang seringkali berpikiran yang buruk dan tidak sehat. Namun Yesus tetap berpikiran sehat. Ingat, salah satu tujuan iblis memakai senjata fitnah dalam menyerang kita agar kita kehilangan pikiran sehat, dan mulai bertindak sembrono.

4. Ayat 16, 23; Yesus tegas dan tidak mau dipengaruhi.

Meskipun hidup Kristen harus mengalah, tetapi bukan berarti kita harus menjadi orang bodoh dan dapat dipermainkan begitu saja. Kita harus tegas dan tidak boleh terpengaruh. Lihat Yesus, Ia tegas dan tidak terjebak oleh perangkap para ahli Taurat.

Kesimpulan :
Kita difitnah itu karena kekristenan memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh dunia, dunia ingin melihat kita hancur dan terpisah dari Allah. Karena itu tetaplah akrab dengan Bapa, terus melayani, tetap berpikiran sehat, dan tegas dalam kebenaran serta tidak mudah dipengaruhi, maka kemuliaan Allah dinyatakan dan yang membuat kita meraih kemenangan besar.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Berusaha Selalu Melakukan Yang Terbaik



Walaupun kita tidak akan selalu mendapatkan balasan yang setimpal saat kita telah memberikan dan melakukan yang terbaik, ada satu hal yang pasti. Mereka yang senantiasa melakukan yang terbaik akan selalu memperoleh kepuasan hidup.
Inilah upah yang Tuhan berikan saat kita mencurahkan diri sebaik-baiknya, seolah-olah setiap hari kita sedang memahat karya emas untukNya.

BAGAIMANA AGAR KITA DAPAT SELALU MELAKUKAN YANG TERBAIK?

Berikut ini adalah tipsnya :

  1. Beriman atau yakinkan diri bahwa kita mampu melakukan yang terbaik. Pupuklah keyakinan setiap saat, setiap hari, tambahkan dengan pengharapan, iman & harapan membuat kita semakin bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan segala sesuatu dalam hidup kita.
  2. Ketahuilah apa yang Anda inginkan. Mengetahui mimpi, cita-cita atau visi, membuat kita fokus dan memiliki tujuan.
  3. Bersikaplah proaktif dengan selalu introspeksi dan mau memperbaiki kekurangan diri.
  4. Ketahui, pelajari dan praktekanlah prinsip-prinsip keberhasilan dari orang lain. Melakukan hal ini bagaikan memegang peta di jalan yang tak kita kenal.
  5. Ketahuilah dari kedua sisi: kisah kesuksesan & kegagalan hidup dari orang-orang lain. karena pengalaman hidup orang-orang lain – baik yang hidup di masa lalu hingga sekarang – bagaikan harta terpendam bagi mereka yang serius untuk menggalinya.
  6. Mau belajar dari orang lain. Bersedia diajar, orang yang mau mengajar adalah orang yang rela memberikan dirinya bagi kebutuhan orang lain. Orang yang mau belajar, dipelihara oleh apa yang ia pelajari.
  7. Rancanglah masa depan. Bertanyalah kepada ahlinya bila mungkin.
  8. Ketahuilah karier yag paling tepat bagi Anda. Pilihlah  karier yang paling sesuai dengan potensi maksimal Anda
  9. Buatlah perencanaan karier agar karier Anda dapat meningkat. Ketahui kompentensi apa saja yang dibutuhkan agar karier Anda dapat bergerak maju.
  10. Berani bermimpi. Senantiasa berpengharapan, namun tetap realistis.
  11. Tentukan apa saja yang ingin Anda lakukan agar pekerjaan atau karier Anda tidak menjadi rutinitas. Setelah berhasil mencapai satu tujuan, berikan hadiah & apresiasi pada diri sendiri. Maka, Anda pun akan puas. Ketika orang-orang lain memberikan apresiasinya pada Anda, itu adalah bonus!
  12. Berinvestasilah pada diri sendiri. Misalnya dengan membiayai diri sendiri agar menguasai hal-hal yang belum kita kuasai. Dengan terus mengasah diri, kita menjadi manusia yang trampil dari waktu ke waktu. Inilah yang membentuk seseorang menjadi berkompeten.
  13. Terus belajar. Dunia yang terus berubah memaksa kita untuk terus belajar agar tidak ketinggalan zaman. Misalnya: datang ke seminar,ikut pelatihan atau training, dan membaca buku-buku.  Semua pelajaran ini harus sesuai dengan karier yang sedang kita tekuni, atau  cita-cita kita – kelak kita mau menjadi orang seperti apa.
  14. Memiliki guru, tapi juga menjadi guru. Ini adalah proses belajar mengajar yang mempercepat proses belajar Anda sendiri. Guru bisa jadi adalah siapa saja: orangtua, pasangan hidup, dosen, atasan, hingga sahabat & rekan kerja, bahkan para customer kita. Tapi, janganlah melulu hanya mau “mengambil” sesuatu dari orang lain, bagikan pula sesuatu dari Anda pada orang lain. Maka, julukan “pengambil yang egois” tak akan melekat pada diri kita.
  15. Bergabunglah dengan komunitas yang positif atau sesuai dengan karier dan profesi Anda.
  16. Selalu ada hal-hal yang diharapkan dari orang-orang yang berhubungan dengan kita. Seringkali harapan mereka tak tertulis dan tak terucapkan. Carilah tahu, dan berilah dengan benar & tepat sesuai dengan yang diminta.
  17. Carilah tahu apa yang diharapkan orang lain dari diri kita. Misalnya: harapan dari atasan kita di kantor, higga keinginan konsumen kita. Ketika kita mengetahui harapan mereka, hal ini memudahkan kita. Sebab usaha-usaha kita jadi lebih tepat arahnya! Berilah lebih dari yang diharapan.
  18. Hindarilah sikap one-man-show, yaitu tampil menonjol seorang diri.
  19. Kompetensi membuat kita dihormati, namun karakterlah yang membuat kita dipercaya. Dengan kepercayaan, kita memperoleh kesempatan. Dalam kesempatan ada benih keberhasilan. Akhirnya, konsistensilah yang memberntuk kesuksesan jangka panjang.
  20. Membangun karakter diri. Bersedialah membuang karakter yang buruk. Walau sulit, bangunlah karakter yang lebih baik, berusahalah berubah hari demi hari. Misalnya buanglah karakter negatif, seperti malas, tak dapat dipercaya & berintegritas. Kelima karakter positif inilah dasar bagi keberhasilan kita seumua.

Senin, 14 Oktober 2013

Mengubah Dunia

Nats : Matius 2:13-16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Salah satu tokoh negarawan yang saya kagumi adalah Mahatma Gandhi. Ketika India masih dijajah Inggris, Gandhi menjadi seorang pemimpin yang berhasil membawa India keluar menjadi bangsa yang merdeka. Gandhi percaya bahwa setiap orang harus dapat menjadi pembawa perubahan untuk melihat apa yang mereka inginkan dapat terjadi di dunia ini.

Gandhi merupakan seorang pemimpin yang revolusioner, namun ia membawa India menjadi bangsa yang merdeka tanpa memulai sebuah revolusi. Bahkan ia melakukannya tanpa kekerasan sama sekali. Gerakan Satyagraha yang dipimpinnya berhasil membawa perubahan bagi sebuah bangsa yang dahulu terpuruk hingga saat ini menjadi bangsa yang diperhitungkan dalam peta perdagangan dunia.

Gandhi mengatakan, "In a gentle way you can shake the world" (dengan sebuah cara yang lemah lembut Anda dapat menggoncangkan dunia). Sungguh sebuah pemikiran yang berbeda untuk memperjuangkan sebuah keerdekaan. Ada begitu banyak orang yang berjuang dengan demostrasi dan kekerasan untuk dapat mengubah sesuatu, namun pada akhirnya hal tersebut berakhir dengan sia-sia.

Untuk menjadi agen perubahan, Anda tidak harus berteriak. Anda juga tidak harus pandai berbicara. Anda tidak harus menjadi terpilih. Anda juga tidak harus menjadi sangat pandai atau berpendidikan. Yang Anda butuhkan adalah memiliki sebuah komitmen.

Yesus adalah salah satu Pribadi yang mengubahkan dunia dengan kasih. Ia menaklukkan dunia dengan kelembutan, bahkan Ia tidak bersuara sedikitpun ketika hendak diadili. Yesus tidak takut menghadapi apapun untuk melihat orang-orang yang dikasihiNya kembali dalam pelukanNya.

Perubahan selalu dimulai dari diri Anda terlebih dahulu.

BERPIKIR.

Nats : Roma 12:2-3 
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Berpikir adalah berbicara dengan diri sendiri (self-talk). Kita dapat berbicara dengan diri sendiri dengan penuh kebebasan. Ketika berbicara dengan orang lain, orang lain dapat menghentikan pikiran kita. Misalnya, bila kita merasa malu, ditolak, atau ditegur. Tetapi tidak ada orang lain yang mengetahui pikiran kita. Kita dapat berpikir setinggi langit atau sejauh dasar bumi. Hanya kita sendiri yang dapat mengontrol pikiran kita.

Bagaimana kita dapat berpikir dengan efektif? 

1. Think deeply. 
Kita perlu belajar untuk berpikir secara mendalam. Berpikir secara mendalam berarti memikirkan perkara yang penting dalam hidup seperti perkara rohani. Banyak orang mengesampingkan perkara rohani walaupun perkara rohani lebih penting daripada perkara jasmani. Orang yang bijaksana adalah orang yang berpikir secara mendalam tentang hidupnya.

2. Think creatively. 
Kita perlu belajar untuk berpikir kreatif. Jangan hanya menerima atau mengikuti pendapat orang lain. Kembangkan daya pikir yang kritis dan kreatif. Jangan takut untuk mengajukan pertanyaan.

3. Think differently. 
Kita perlu terbuka pada perubahan. Cara hidup dan kebiasaan yang kurang baik perlu diubah sehingga kehidupan kita bisa menjadi lebih efektif.

Think deeply. Think creatively. Think differently.