Selasa, 04 September 2012

SAHABAT SEJATI (1)

Nats: Amsal 18:24
"Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara."

Sahabat! Biasanya semua orang memiliki minimal seorang atau lebih sahabat dalam suatu fase kehidupannya. Tapi bagi beberapa orang, persahabatan ini seringkali menjadi hal yang menyulitkan dalam perkembangan pribadinya.

Persahabatan banyak terjadi karena orang-orang berada dalam suatu lingkungan yang sama. Memang agak sulit jika persahabatan dihubungkan dengan profesionalitas dalam pekerjaan atau pelayanan. Sungkan dan alasan tidak ingin merusak persahabatan tidak jarang membuat kita kompromi terhadap kesalahan rekan yang juga sahabat kita itu. Jika tidak hati-hati, persahabatan bisa menjadi faktor penghambat dalam kehidupan, khususnya ketika kita tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan karena persahabatan itu.

Mari mulailah merenungkan kembali persahabatan macam apa yang kita miliki. Sahabat adalah seorang yang ingin agar kita mencapai hasil-hasil yang maksimal, dan kita juga ingin hal yang sama terjadi atas diri sahabat kita. Jika kita melakukan kesalahan, seorang sahabat seharusnya malah lebih leluasa untuk menegur, karena itu akan membawa kita berubah ke arah yang lebih baik bukan?

Anda punya tugas menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupan Anda sendiri. Jangan hanya karena sungkan dengan sahabat, Anda lalai dengan kehendak Tuhan. Dan jika sampai terjadi karena mengikut kehendak Tuhan Anda kehilangan sahabat, Ia yang setia akan mengganti sahabat Anda berlipat kali ganda.

Cara termudah untuk bertumbuh adalah dengan mengelilingi diri dengan orang-orang yang dapat memaksimalkan kita.

MENGATASI KESALAHAN

Nats: Lukas 15:11-24
"Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa."

Tidak ada seorangpun yang kebal dari kesalahan. Sepandai apapun seseorang, ia pasti melakukan kesalahan. Oleh sebab itu, kita perlu bertanya tidak hanya "mengapa" tapi juga "bagaimana" kita dapat mengatasi kesalahan atau kegagalan hidup kita.

Lukas 15 menceritakan tentang seorang anak yang melakukan kesalahan dalam hidupnya. Ia meminta harta warisan dari ayahnya, menghamburkannya dengan berfoya-foya, dan akhirnya menjadi melarat. Tapi, kisah ini tidak berhenti sampai di sini. Di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Bagaimana sikap anak yang bungsu ini dalam menghadapi kesalahannya?

Pertama, ayat 17 mengatakan bahwa ia menyadari kesalahannya. Kesadaran merupakan langkah positif pertama menuju kesembuhan! Banyak orang yang melakukan kesalahan sama berulang kali dan tidak pernah menyadari kesalahannya. Kita perlu berdoa dan meminta hikmat pada Tuhan agar kita peka dengan dosa sehingga kita cepat menyadari kesalahan kita.

Kedua, anak ini mengingat bahwa kasih bapanya lebih besar daripada segala kesalahannya (ayat 18). Kita perlu memegang prinsip hidup ini: Kasih Tuhan selalu lebih besar daripada segala kesalahan kita. Ini bukanlah alasan untuk melakukan dosa, melainkan adalah suatu pengharapan. Tuhan tidak pernah menolak orang yang datang kepadaNya, berapapun besar kesalahannya. Tuhan tidak pernah memutuskan hubunganNya dengan kita. Kitalah yang sering menolak dan meinggalkan Dia. Dia adalah Maha Pengasih dan Maha Pengampun.

Ketiga, anak ini bangkit dan pergi kepada bapanya (ayat 20). Bila kita tidak bangkit dari kesalahan kita, maka pembaharuan tidak akan pernah terjadi. Selama kita mau bangkit, kita tidak akan gagal. Kegagalan terjadi bila ita berhenti mencoba. Pelajari kesalahan kita dan apa yang membuat kita gagal, supaya hal tersebut tidak terulang lagi.

Pertobatan melibatkan kesadaran, iman, dan juga tindakan nyata.

PINTU TERTUTUP

Pintu Tertutup
Nats: Yohanes 10:7-9
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

Tuhan tidak pernah menutup satu pintu tanpa membuka pintu yang lain. Tuhan tidak pernah menutup satu kesempatan tanpa membuka kesempatan yang lain. Mengapa Tuhan menutup pintu atau kesempatan? Seringkali Tuhan ingin menarik perhatian kita. Dia ingin agar kita memiliki prioritas yang benar. Bila kita menyimpang dari jalanNya, kita tidak hanya mnghancurkan hati Tuhan, tapi juga menghancurkan hidup kita.

Tuhan ingin mengarahkan kita pada kesempatan yang lebih besar. Kita biasanya igin tinggal di zona nyaman dan aman serta tidak menyukai perubahan. Semua perubahan mempunyai resiko dan tantangannya masing-masing. Tuhan seringkali menutup satu pintu untuk memberikan kesempatan atau hal yang lebih baik, mungkin sesuatu yang akan lebih dapat mengeluarkan dan mengasah potensi kita, atau melatih dan membentuk karakter kita.

Oleh sebab itu, bila ita menemukan pintu di depan kita tertutup, jangan langsung putus asa. Alexander Graham Bell berkata, "Sometimes we stare so long at a door that is closing that we see too late the one that is open." Kadangkala kita terpaku terlalu lama dengan pintu yang tertutup sehingga kita terlambat untuk melihat pintu lain yang terbuka. Ubahlah pandangan Anda, siapa tahu setelah itu Anda akan dapat melihat kesempatan yang baru!

Satu pintu harus ditutup sebelum sebuah pintu yang lain dibuka.

KUASA FOKUS

Nats: 2 Timotius 2:5
"Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga."

Sebuah kaca pembesar dapat mengakibatkan kebakaran hutan. Sinar matahari dapat memotong plat baja. Jika secara sepintas kita membaca dua kalimat di atas, kita mungkin mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin?

Semuanya bisa terjadi kalau sinar matahari itu difokuskan. Bisa dengan kaca pembesar itu yang akan "mengumpulkan" sinar itu pada satu titik dan kemudian menimbulkan bara api, atau dengan lebih mengerucutkannya mejadi sinar laser yang mampu memotong plat baja. Segala sesuatu yang lebih terfokus ternyata menjanjikan efektifitas dan efisiensi.

Hukum yang sama berlaku juga dalam kehidupan kita. Jika kita sibuk dengan segala hal yang sebenarnya bukan fokus hidup: energi, waktu, dan uang akan habis percuma. Sebaliknya jika kita menyibukkan diri dengan hal-hal yang menjadi fokus hidup, hal-hal utama dan terpenting dapat diraih.

Bukankah seorang pelari sprint atau marathon tidak boleh sibuk dengan apapun yang ada di pinggir lintasan? Bukankah seorang perenang tidak boleh tergoda dengan apapun yang ada di luar kolam?
Bagaimana mencapai finish dengan fokus terpecah? Mereka hanya bisa sampai di finish jika pandangannya hanya difokuskan pada garis akhir.

Hal-hal yang penting dalam hidup dapat diraih dengan fokus hidup yang lebih jelas.

KESATUAN TUJUAN

Nats: Roma 12:16
Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

Setiap kali mendengar tentang perselisihan di gereja, saya merasa ngeri. Saat saya dan istri pergi makan bersama dengan seorang teman yang melayani sebagai pendeta, ia menceritakan kepada kami beberapa hal yang menjadi sumber pertengkaran orang-orang di gerejanya. Orang-orang kristiani bertentangan satu sama lain hanya karena masalah-masalah seperti : warna karpet, makanan/konsumsi, pengaturan AC, sound system, warna cat, apakah paduan suara sebaiknya pakai jubah atau tidak, pemilihan alat musik, dll.

Sebagai akibatnya, banyak pendeta atau orang Kristiani terpaksa meninggalkan gereja karena berbagai perselisihan seperti di atas. Orang-orang kristiani saling memutuskan hubungan persahabatan. Gereja terpecah karena jemaat meributkan hal-hal semacam itu.

Mengapa hal ini terjadi ? Mereka yang terlibat dalam pertengkaran karena masalah sepele seperti tersebut di atas telah melupakan fungsi gereja yang sesungguhnya. Gereja adalah tempat kita beribadah, membaca firman Tuhan, bernyanyi untuk kemuliaan Allah, melayani orang lain, dan saling membantu untuk bertumbuh bersama demi mencapai kedewasaan penuh dalam iman. Gereja seharusnya menjadi tempat yang penuh kasih, pengampunan, dan pengharapan.

Dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus, Rasul Paulus menjelaskan tentang kesatuan tujuan (baca: Efesus 4:1-16) yang dapat membantu kita mengatasi berbagai perbedaan pendapat tanpa mengakibatkan perpecahan. Ia tahu betul bahwa keinginan yang egois, kepentingan pribadi, dan sikap pilih kasih, serta merasa diri paling benar dapat menimbulkan perpecahan/malapetaka (baca: 1 Korintus 3:1-9).

Sebagai warga gereja, marilah kita kembalikan fungsi gereja sebagai tempat yang bebas dari perselisihan dengan mengingat fungsi gereja yang sebenarnya. Ingatlah selalu bahwa gereja yang adalah tubuh Kristus, yang merupakan kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Mengapa ? Karena orang-orang Kristiani yang suka berselisih satu sama lain mencerminkan “sosok” yang tidak dapat berdamai dengan Bapa Sorgawi.

BUKAN ORANG BIASA

Nats: Daniel 6:4
Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.

Daniel adalah sosok yang luar biasa. Dia bukan hanya setia beribadah kepada Allahnya, tapi juga setia dalam profesinya di lingkungan pemerintahan. Bahkan, rekan-rekan kerjanya sampai tidak bisa mendapati cela dalam pekerjaan Daniel. Kalau kita baca keseluruhan kitab Daniel, saat tampuk kekuasaan beberapa kali silih berganti, nama Daniel masih tercatat sebagai orang yang terpandang, bahkan membuat para raja mengakui dan memuji kebesaran Allahnya.

Kisah ini semakin membukakan tentang betapa pentingnya kita menelaah kembali kompetensi pribadi. Banyak yang masih keliru dalam menjalankan profesi kita. Konsep iman seringkali menjadi alasan untuk malas belajar. Kita lupa bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Doa dan iman tidak sepatutnya dipandang sebagai ‘pengganti' proses belajar dan berusaha. Untuk menjadi marketer yang handal, misalnya, tidak cukup dengan berdoa, tapi akal budi dari Tuhan perlu dimaksimalkan dengan banyak belajar. Daniel pun terus belajar di istana sambil tetap menjaga kesucian hidupnya (Daniel 11).

Cerita Daniel ini kembali mengingatkan untuk tidak berhenti meng-up grade diri supaya kita menjadi kompeten di bidang kita masing-masing. Dengan pertolongan Roh-Nya dan dengan kesetiaan untuk melakukan yang terbaik, semoga muncul lebih banyak profesional teladan Kristen. Mereka yang mampu menyatakan imannya pada dunia, sehingga orang-orang di luar sana dapat mengenal Tuhan kita yang hidup.

Mari kita tidak berhenti meng-up grade kemampuan kita.IMANNUEL ........

FINISHING WELL

Nats: Mazmur 143:10
"Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata."

Tuhan Yesus mengawali misi-Nya di dunia ini dengan lahir sebagai manusia, dan sebagai manusia, Ia telah menyelesaikan setiap misi yang ditugaskan kepada-Nya dengan sempurna, yang ditunjukkan dengan kematianNya di atas kayu salib untuk menebus manusia.

Namun fakta mengatakan bahwa dua dari tiga orang pemimpin atau tokoh-tokoh terkenal dalam Alkitab tidak mampu menyelesaikan kehidupan mereka dengan baik. Misalnya Simson, Salomo, Musa, Saul, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan kita?

Alkitab mengatakan bahwa kita memiliki banyak pendukung untuk menjalani kehidupan ini. Para pendukung kita adalah para pionir yang telah melewati masa-masa kehidupan terlebih dahulu dari pada kita, dan mereka meminta kita untuk jangan berhenti, melainkan terus berlari, menanggalkan semua beban dan dosa yang merintangi kita, tidak menyerah dan berusaha untuk meraih kemenangan bersama dengan Tuhan.

Terkadang kita merasa kehilangan pengharapan dan kepercayaan kita kepada Tuhan, namun sesungguhnya Tuhan sangat menginginkan kita mengalami perjalanan yang luar biasa bersama Dia, dan untuk mengalami hal tersebut, satu-satunya kunci adalah kita tidak boleh berhenti, melainkan harus terus menjalani prosesnya hingga selesai.

Mulai sekarang biarkan Allah memimpin dan mengontrol kehidupan kita. Jika kita membiarkan-Nya memimpin jalan kita, maka kita akan dapat mengakhiri perjalanan kehidupan kita dengan baik. Belajarlah untuk berkata agar kehendak Tuhan yang jadi dalam kehidupan kita, dan majulah selangkah demi selangkah bersama dengan Dia.

"Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." (Amsal 3:5).